Minggu, 28 November 2010

MALAM YANG TERANG

Terbangun, aku menatap jam dinding yang terpasang di kamarku. Jam 3.42 pagi, aku mendengar merdunya suara seorang lelaki yang melantunkan ayat suci Al-Qur’an. Ar-Rahman. Betapa aku yakin bahwa surat itulah yang dilantunkannya. Hatiku hancur, terenyuh oleh sendu suara yang kudengar sayup. Perlahan, air mataku menetes di relung pipi yang agaknya telah kehilangan senyuman. Di pikiranku tak ada lain selain Allah. Di hatiku tak ada lain selain perasaan bersalah yang amat sangat. Perasaan penuh dosa yang tak terhitung banyaknya. Kerinduan yang teramat dalam pada apa yang tak kuketahui membuat air mataku semakin tak tertahankan.
”Aku rindu pada-Mu, ya Allah. Aku sangat merindukan Engkau. Mengapa tidak juga aku dapat mencintai-Mu? Mengapa tidak juga aku dapat menyerahkan segalanya pada-Mu? Selama ini aku terlalu sombong, ya Allah. Selama ini aku terlalu mencintai diriku, mencintai dunia dan isinya. Aku terlampau bodoh untuk mengerti dan mensyukuri nikmat-Mu.” Tersedu aku bergumam.
Tubuhku semakin meringsut karena tangis yang kian meledak. Tak pernah aku merasa seperti ini sebelumnya. Hatiku terasa sangat kosong, terasa sangat hampa, hingga tak ada yang bisa kuperbuat selain, menangis. Entah mengapa aku merasa kehilangan yang amat sangat. Merasa kehilangan atas sesuatu yang sama sekali tak kukenal.
” Ya Allah, jika selama ini ibadahku tidaklah untukMu, jika segala amalku bukan karena cintaku pada-Mu, maka bawalah aku kesisi-Mu. Bawalah aku menuju kepada-Mu. Agar dapat aku mencintaimu. Agar dapat aku menjadi manusia yang beribadah hanya karena mencintai-Mu. Agar aku dapat menjadi kekasih-Mu. Aku mohon Ya Allah, Dzat yang Maha Agung. Aku mohon......”
Tangisku rupanya membuat sahabat yang sekaligus teman sekamarku terbangun dari tidurnya. Kaget, dia pun segera menghampiriku yang kini tengah bersujud di tempat biasa kami berdua melakukan sholat berjama’ah.
”Zarra, engkau kenapa sahabatku? Adakah aku telah menyakiti hatimu? Adakah aku telah berbuat kesalahan padamu? Jika iya, maaf saudariku. Maaf.... Aku tak bermaksud menyakitimu. Aku tak akan pernah bisa menyakitimu.” Ucap Ana, sahabatku seraya membangunkanku dari sujud.
”La...ya ukhti, la... Engkau tidak pernah barang sedikit pun menyakiti hatiku. Air mata ini untuk Tuhanku, ya ukhti. Untuk Allah. Aku merasa sangat kehilangan. Aku merasa sangat merindukan-Nya. Aku tidak tahu ada apa denganku. Ukhti, tolong bantu aku....” jawabku sambil menangis di pangkuannya.
”Subhanallah... Betapa bahagia anak Adam yang dapat menangis karena Tuhannya, Allah Azza wa Jalla. Insya Allah air matamu itu akan membawamu kepada hidayah-Nya, akan membawamu kepada jalan-Nya yang lurus, dan akan membuatmu menjadi kekasih-Nya. Insya Allah saudariku, Insya Allah.” kata Ana lagi mengelus rambut hitamku yang belum sempat aku rapikan.
” Demi Allah, aku ingin menjadi seorang muslimah yang kaffah menjalani kehidupan dengan tata cara-Nya. Aku ingin menjadi wanita yang hanya ada Allah di hatiku. Demi Allah. Aku tidak ingin lagi menjadi manusia yang beribadah hanya karena kewajiban, hanya karena keharusan apalagi hanya karena mengharapkan surga-Nya. Adakah aku salah dengan semua itu, ya ukhti? Adakah aku menjadi tidak terpuji jika aku menginginkan hal itu terjadi padaku? Ya Allah............” Jeritku seraya kembali bersujud.
Semakin tersedu, aku menahan sakit di hatiku. Aku rasakan getir yang amat sangat di setiap jengkal kalbuku. Tak tahu apa penyebabnya. Tak tahu kapan air mata ini akan habis, dan tak tahu kapan tangisku akan berhenti.
” Ikhlas Zarra, ikhlaslah menerima semuanya. Karena semua hanya berasal dari-Nya, dan hanya berakhir pada-Nya. Menangislah, karena hanya kaulah yang dapat menghentikan tangismu sendiri. Menangislah Zarra, karena hanya kamulah yang tahu kapan tangismu harus berhenti. Tak selamanya menangis itu lemah, karena adakalanya menangis adalah kekuatan yang dapat menghancurkan dinding keakuan saat menghadap pada-Nya. Subhanallah, semoga engkau selalu mendapat hidayah yang berlimpah dari Sang Hyang Wenang. Amin...” bisiknya lagi dengan meninggalkanku sendirian di kamar. Agaknya Ana memberikanku waktu untuk menyendiri dan tepekur memikirkan semuanya.
Tak lama kemudian, adzan subuh berkumandang. Semakin menjadilah tangisku karenanya. Aku menjerit mohon ampun, aku menjerit untuk rasa rinduku yang teramat dalam, dan aku menjerit memohon agar aku dapat dekat dengan Sang Maha Kuasa, Sang Maha Rencana. ”Ya Allah, Ya Tuhanku Yang Mulia, hanya Engkau yang mengetahui betapa aku, hambamu yang kotor ini, merindukan-Mu. Dekatkanlah aku pada-Mu ya Allah. Biarkan benih cinta tumbuh dihatiku. Cinta yang hanya untuk-Mu, cinta yang begitu besar sehingga aku akan rela berbuat apapun agar Engkau pun sudi menyayangiku. Ya Allah, aku ingin menjadi hamba-Mu yang hanya ada Engkau di hatiku. Yang hanya akan beribadah karena besarnya cintaku pada-Mu. Ya Allah, jadikanlah aku manusia yang akan selalu mengingat-Mu. Ya Allah, kabulkanlah permohonanku ini. Amin....”
Mengambil air wudlu, aku menyegerakan diriku memakai hijab dan beribadah seikhlas mungkin. Tak pernah aku merasakan ketenangan yang teramat sangat. Aku sangat bahagia. Aku merasa dapat menghadapi semuanya dengan langkah yang ringan.
”Ya Allah, apapun akan kulakukan untuk tetap menjaga rasa cintaku pada-Mu. Aku merasa dapat ikhlas menjalani hidupku dengan cinta pada-Mu dihatiku. Aku merasa dapat menghadapi semuanya dengan tuntunan cahaya dari-Mu.” sambil tersenyum ringan, aku menyambut hari baru yang merupakan hari lahirnya cinta agung di hatiku.

Based on a true story,
ZOE ’04

Tidak ada komentar:

Posting Komentar