Rabu, 03 Maret 2010

SALAHKAH

Entah mengapa hari ini aku merasa sendiri. Meski langit begitu penuh bintang dan jalanan masih begitu ramai dengan kendaraan yang lalu lalang. Tapi, aku hanya mendapati diriku kesepian di pinggiran kota. Di kota yang bahkan aku tak tahu dan tak kenal satu pun penghuninya. Semua berbicara dengan bahasa yang sama sekali tak kumengerti. Semua bertingkah seolah aku adalah manusia yang tidak tahu adat. Manusia yang benar-benar tidak tahu bagaimana caranya hidup dengan manusia lain.
Salahkah aku jika aku sama sekali tidak mengerti apa yang mereka maksud? Salahkah jika sedikit saja aku berharap akan kedatangan pahlawan kesiangan yang akan dengan senang hati mendengarku berbicara dengan bahasaku sendiri. Salahkah aku jika aku berharap dengan sangat akan kehadiran sesosok bijaksana yang akan dengan senang hati pula memberiku nasehat dan saran yang aku mengerti dan yang benar-benar dapat aku terima? Salahkah aku jika aku tetap menunggu keturunan Adam yang dapat mengerti posisiku dan dapat dengan bijaksana memberiku pesan yang layak untuk dipertimbangkan? Aku butuh penyelesaian, bukan justifikasi akan ketidakmengertianku. Bukan tuduhan yang sangat memojokkanku. Dan bukan juga kata-kata bernada tinggi yang mengandung makna bahwsanya tidak ada pilihan lain bagiku selain PULANG.
Salahkah aku jika aku ingin tetap tinggal di tempat yang membuatku nyaman? Salahkah aku jika aku ingin tetap bersama manusia yang mengerti bahasaku dan manusia yang berbicara dengan bahasa yang aku mengerti pula?
Di rumah, bagiku semua hanya bisa diam. Tanpa kasih maupun sayang. Apalagi cinta. Pantaskah hal yang sedemikian itu disebut dengan rumah? Menurutku itu hanya bangunan saja. Hanya onggokan puing-puing beton dan batu bata. Tidak bermakna. Tidak pula bernyawa. Begitu juga dengan penghuninya. Mereka, yang katanya adalah manusia-manusia yang mengalir di dalam tubuhnya darah yang sama dengan yang ada di tubuhku, hanya mampu mengumpatku dengan semua tingkah lakuku. Beberapa orang memang sangat pandai menilai bagaimana orang lain harus bertindak dan menjalani hidupnya dan tidak begitu dengan kehidupan mereka sendiri, kata Coelho.
Aku, hanyalah keturunan Hawa yang dengan sekuat tenaga mencari rumah. Mencari tempat yang membuatku nyaman, mencari lingkungan yang dapat memberikanku harapan untuk hidup sebagai manusia. Bukan sebagai makhluk lain yang aku tidak tahu harus diklasifikasikan sebagai apa. Bukankah kata Irshad rumah adalah tempat tinggal martabat bukan hanya tempat nenek moyang berasal? Jika di tempat yang mereka sebut sebagai rumah tidak dapat memberikan tempat bagiku untuk meletakkan martabatku, tidak bolehkah aku meninggalkan bangunan kosong itu dan mencari tempat untuk martabatku sendiri? Tidak bolehkah aku menuju ke tempat dimana aku dengan martabatku mendapatkan sambutan yang sangat lebih dari kata layak?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar