Rabu, 03 Maret 2010

SAHABAT DAN CINTA

Melihat kesedihan di raut muka kedua orang tua Zarra, aku terenyuh. Tak sampai pada logikaku mengapa dan bagaimana Zarra, seorang gadis periang penuh semangat dan penuh cita-cita kini terbaring tak berdaya di atas seonggok dipan di sebuah ruangan sempit tak bernomor ini. Wajahnya kaku, tanpa senyum yang biasa dia sedekahkan kepada semua orang yang ditemuinya. Menjadi salah seorang pasien di rumah sakit Diponegoro, nampaknya bukanlah keinginan gadis rupawan ini. Keceriaan yang meskipun tak tampak dari ekspresi wajahnya, namun tetap dapat dia pancarkan lewat semangatnya untuk hidup dan tetap melawan penyakit yang sedikit demi sedikit menggerogoti tubuhnya yang elok.
Tata bicaranya yang menyala sama sekali tak mudah dilupakan setiap orang yang pernah bersentuhan dengan kata-katanya. Gaya gerak tubuhnya tak mungkin dapat dihilangkan dari daftar hal-hal paling menakjubkan di dunia. Dan semua yang ada dalam dirinya membuat teman dan kerabat dekatnya merasa tak rela dan tak percaya bahwa gadis yang selalu membuat dunia tersenyum itu, kini sudah tak lagi dapat menaburkan senyum indahnya ke seluruh penjuru bumi.
”Serangan whelan”, kata dokter spesialis kejiwaan dan gangguan saraf yang tengah menangani kasus Zarra. ”serangan ini lebih ganas dari serangan jantung.” lanjutnya lagi.
”Pasien tampak tertidur pulas. Bermimpi, tapi tidak akan kembali. Bukan koma, apalagi gila, tapi menghilangnya raga dan bukan nyawa. Badan tidak lumpuh, hanya saja virus dalam otaknya menyebabkan pikiran tidak ingin bergerak. Virus inilah yang mengakibatkan saraf motorik pasien menjadi lumpuh meskipun tidak terdapat gangguan pada saraf tersebut. Akibat dan serangan dari penyakit jenis ini lebih berbahaya dari skyzofrenia. Dan serangan ini hanya terjadi 12 kali didunia dalam kurun waktu 50 tahun. Langka, dan saya sangat yakin belum ada pengobatan efektif yang dapat dilakukan.” kata dokter bertubuh subur itu menjelaskan.
”Kami sebagai ahli medis bukan menjatuhkan semangat dan harapan anda pada kesembuhan Zarra, tapi kami hanya menyampaikan apa yang kami ketahui. Kami hanya akan menyampaikan fakta. Tapi, ini tidak berarti kita harus menyerah pada penyakit yang diderita Zarra. Kita harus terus berusaha yang terbaik bagi kesembuhan Zarra. Paramedis hanya dapat memeriksa setiap respon pasien terhadap rangsang. Baik panca indra maupun pikirannya. Kita hanya mampu menjaga supaya pasien tidak kehilangan kontak dengan lingkungan selama jantungnya masih berfungsi. Jadi, saya harap dari pihak keluarga dan teman-teman pasien dapat membantu kinerja kami dengan tetap menjalin kontak dengan pasien. Anggap pasien seperti manusia normal pada umumnya. Jangan mengingatkan bahwa pasien tengah tak berdaya. Saya harap bapak dan ibu bisa sabar menanti sadarnya Zarra.” diiringi sebuah senyum kecut, dokter itu meninggalkan ayah dan ibu Zarra dalam kondisi bingung akan penyakit yang dialami putri tunggal mereka.
Aku masih sama sekali tidak mengerti bagaimana penyakit yang mengerikan itu bisa menghampiri tubuh elok Zarra, tubuh yang aku kenal sangat kuat melawan segala serangan penyakit. Setahuku, Zarra adalah manusia paling kebal penyakit. Dia adalah makhluk yang paling jarang sakit jika dibandingkan dengan makhluk-makhluk lain yang aku kenal. Mungkin hanya flu penyakit yang kerap menimbulkan masalah baginya.
Menatap mimik wajah Zarra yang datar, aku merasa kembali ke masa lalu. Ke masa dimana kita kerap melakukan hal-hal gila bersama. Menjadi wartawan budaya hingga di daerah terpencil adalah obsesi terbesar kami sejak SMU. Tri Darma, SMU terkemuka di bilangan Cipete menjadi tempat kami menimba ilmu selama tiga tahun. Disanalah kami bertemu untuk pertama kalinya.
”Hai manis, namaku Zarra. Kamu?” sapanya sambil mengulurkan tangan hendak menjabat tanganku. Tak akan pernah kulupakan senyum indah yang diberikannya untukku ditengah penderitaan kami sebagai siswa baru di SMU itu.
”Rui.” jawabku seraya mengumbar senyum terbaik yang pernah kumiliki. Betapa tidak, dia adalah teman pertamaku di SMU.
Tanpa memerlukan waktu yang lama, kami dapat akrab dengan begitu mudahnya. Kesenangan terhadap jenis musik yang sama menjadikan kita berdua pasangan duo sejati di sekolah. Aku berterima kasih pada Billie Joe (Green day) yang telah mengantarkanku seorang sahabat sejati yang sebelumnya aku kira hanya ada di dongeng-dongeng klasik belaka. Kegilaan kami berdua terhadap musik punk, khususnya Green Day dan Sum 41 membuat kami semakin akur. Bahkan ditengah-tengah masa orientasi kami sebagai siswa baru, kami selalu menjalin manisnya persahabatan.
Meskipun kami saat itu hanyalah dua orang siswa baru, popularitas kami tidak kalah dengan guru paling menjengkelkan di sekolah. Bahkan kami lebih terkenal daripada guru yang menjabat sebagai wakasek kesiswaan dan yang merupakan guru paling ditakuti dan dibenci oleh seantero siswa yang masih waras di sekolah. Kepopuleran kami dikarenakan oleh kebersamaan kami yang selalu kami jaga. Sepaket, itulah komentar setiap teman saat ditanya mengenai kami berdua.
Bukan hanya jenis musik yang kami gandrungi saja yang sama, tapi juga pandangan kami terhadap hidup pun sejalan. Kami tidak akan menyerah pada hidup. Apapun yang terjadi, kami akan membuat nasib kami sendiri. Karena hanya pecundang yang menyerahkan seluruh hidup pada nasib. Dan kami bukanlah pecundang. Paling tidak itulah motto hidup kami. Kami sangat menjunjung tinggi kemerdekaan manusia dalam memilih jalan hidup masing-masing. Tapi yang kami akui sebagai pilihan disini adalah jalan yang dipilih melalui proses tesis, perenungan dan telaah terlebih dahulu. Bukanlah sebuah pilihan jika diambil tanpa ada pertimbangan sebelumnya. Idealisme masa remaja yang indah.
Sering bersama, kami semakin kompak dalam segala hal. Istilah yang kami gunakan untuk menyebut diri kami satu sama lain adalah Partner in Crime. Suka, duka, bahkan marah dan benci serta kecewa kami hadapi berdua. Tak terpisahkan, tak tergantikan. Hingga kami duduk di bangku kuliah, seperti sekarang ini.
Menjadi mahasiswa Sastra Inggris tidaklah sulit kami jalani. Karena inilah impian kami. Bahkan bukan hanya bahasa inggris yang kami kuasai, Jerman, Jepang bahkan bahasa spanyol telah kami babat habis hingga kami duduk di semester 5 kini. Cita-cita kami semasa SMU rupanya telah mendarahdaging dalam jiwa kami. Keinginan yang teramat kuat guna menjadi wartawan budaya hingga di daerah terpencil di seluruh penjuru dunialah yang membuat kami begitu bersemangat dalam mempelajari seluruh bahasa asing dan kebudayaannya.
Tersenyum kecil, aku tersadar dari lamunanku akan masa lalu yang indah saat sedikit demi sedikit wajah Zarra ditutupi kain putih. Beberapa menit yang lalu, perempuan penuh karisma dan semangat hidup itu telah berhenti detak jantungnya, telah berhenti menghirup udara dari hidungnya yang mancung.
Pemakaman kalibata menjadi peraduan terakhir yang telah dipilih kedua orang tua Zarra. Tidak sedikit yang datang menyatakan rasa belasungkawa mereka. Menjadi pribadi yang menyenangkan, itulah yang dilakukan Zarra semasa hidupnya.
Masih lekat di mataku bagaimana sahabat baikku ini meninggalkan pesan yang membuat hatiku semakin hancur. Sebuah kertas bertulis yang hanya dapat dilihat jika kertas itu dicelupkan ke dalam air. Nampaknya dia menulis surat itu dengan tidak sembarangan. Zarra memang merupakan sosok yang penuh dengan kejutan. Penuh dengan hal-hal konyol namun bermakna. Surat itu ia tulis dengan menggunakan semacam bahan bakar. Entah bensin ataukah minyak tanah yang digunakannya. Aku mengetahui cara membaca surat itu lama setelah aku menemukan kertas itu di dalam buku catatanku yang dipinjamnya seminggu sebelum dia terkapar sakit. Sangat original. Ide dalam otaknya seperti tak pernah habis dan masih memiliki banyak stok kedepannya. Kagum yang amat sangat pada Zarra membuatku begitu menyayangi sahabatku itu.
Aku rasa, dalam tidur panjangnya kali ini dia pasti berkata, ”Seru! Seperti cerita detektif di film-film”, sambil mengumbar tawa meskipun aku sama sekali tak melihat secercah senyum dibibirnya. Airmata mengalir deras di pipiku saat kutatap tanah basah, tempat Zarra berbaring dibawahnya. Tak kusangka, waktu tidak berpihak pada manusia yang selalu memberikan inspirasi bagi setiap orang disekelilingnya. Tak pernah kukira bahwa Tuhan begitu menyayanginya, sehingga Dia memanggil Zarra cepat-cepat. Apapun yang terjadi pada Zarra, itu pastilah yang terbaik untuknya.
Membaca kembali kertas itu, hatiku tersayat. “Bagaimana bisa kau berpikir seperi itu, cintaku? Aku, sahabatmu, tidak akan pernah meninggalkanmu. Bukankah aku telah berjanji padamu, bahwa hanya Tuhanlah yang berhak memisahkan kita? Kau ingat itu kan? Aku mencintaimu Zarra, sahabatku yang baik tak terperi. I’ll give you my life to save your, i’ll give you my soul to save your, bahkan akan kukorbankan kehormatanku untuk menyelamatkan kehormatanmu. Jangan pernah ragukan cintaku padamu. Jangan pernah!” ucapku lirih di depan altar pemakaman Zarra, sahabat tercintaku yang akan selalu menempati seluruh ruang jiwaku.



secercah bahagia, seutas senyuman,
seonggok daging tanpa tulanglah yang melakukannya
tanpa kusadari aku menjadi kuat sekaligus lemah saat bersamamu
tanpa kusadari aku menjadi begitu cinta sekaligus benci terhadapmu
cinta pada setiap kelakarmu
benci pada setiap ketulusanmu yang membuatku melayang jauh ke angkasa
selayaknya aku adalah peri istana para dewa

entah mengapa aku merasa ada sesuatu menungguku di luar sana
aku menjadi begitu takut
menjadi begitu ciut, tercekam oleh sesuatu yang menakutkan
tapi aku sama sekali tidak tahu apa itu

aku tak takut pada hidup, apalagi pada mati
aku hanya takut pada satu hal, wahai sahabat tercintaku
KEHILANGANMU.....
Zarra madya pratama


Semakin meledak tangisku ketika kubaca nama penulis di akhir surat yang tengah berada dalam genggamanku itu. Duniaku menjadi begitu indah karena hadirnya seorang sahabat penuh cinta dan cita. Hari-hariku berwarna karena kehadiran sesosok pelangi persahabatan yang didambakan seluruh umat manusia. Sahabat. Sungguh berat menjadi seorang sahabat sejati. Tapi, kau melakukannya tanpa cela. Kau memenuhi setiap kualifikasinya dengan sangat sempurna. Zarra....beristirahatlah dengan segenap cinta. Aku akan melanjutkan mimpi-mimpi kita. Mengelilingi dunia, menjelajah budaya dan berbagi cinta sebanyak mungkin kepada setiap orang yang kujumpa. Beristirahatlah, wahai sahabat yang kucintai. Semoga setiap anak Adam memiliki sahabat sepertimu. Agar mereka tahu bahwa cinta itu hakiki. Bahwa cinta itu suci dan bahwa cinta itu indah tak tertandingi. Selamat tinggal Zarra............



Zoe ’04

Tidak ada komentar:

Posting Komentar