Rabu, 03 Maret 2010

MENJELANG TAKDIR

Lorong yang sepi itu mendadak ramai. Penuh sesak oleh suara tak kasap mata. Peluh yang menetes di tataran langit wajahku menyentak ragaku untuk terjaga. Aku tersudut di pojok gelap sebuah ruang kuliah bilangan Surabaya. Terderaknya suara kursi membuat bulu kudukku merinding.
Tak kusangka aku terkunci di ruang itu bersama seorang lelaki muda sekitar 20 tahun umurnya. Tanpa merasa curiga aku memulai pembicaraan yang kemudian memecah keramaian yang kudengar sayup.
“Dunia ini tak adil! Mengapa kita bisa terkunci disini? Padahal aku sudah meminta temanku untuk membangunkanku jikalau aku tertidur. Eh……ternyata aku malah terbangun di tempat sumpek ini.” keluhku pada pemuda yang wajahnya asing di ingatanku itu.
“Dunia memang tak pernah adil pada penghuninya. Semua orang, bagaimanapun ia pasti pernah mengalami ketidakadilan. Bukan sekali atau dua kali. Bahkan berkali-kali. Atau lebih parah lagi selalu dan tidak hentinya mengalami ketidakadilan.” tandas lelaki yang tidak bisa dikatakan jelek itu.
“Jiya.” sapaku seraya mengulurkan kedua tanganku berharap disambut pula oleh tangannya yang lebih sering berada di dalam saku jaketnya yang sedikit lusuh.
Tanpa menyambut tanganku yang terulur ikhlas, “Arya” jawabnya singkat dengan mimik datar.
“Tampaknya kau begitu pesimis terhadap dunia. Apakah kau sering mengalami ketidakadilan dalam hidup?” Lanjutku pelan.
“Bukan hanya sering tapi aku sudah kenyang akan ketidakadilan. Menjalani hidup, bagiku seperti berjalan di atas batu bara yang sangat lama padamnya. Sakit, terlunta, tapi harus kulalui agar aku dapat sampai di seberang.”jawabnya dengan penuh kekecewaan.
Lelaki ini berbeda. Kataku dalam hati. Jarang aku menemukan lelaki yang menghadirkan pertanyaan penuh pada perjumpaan pertama. Semakin penasaran, aku pun melanjutkan perbincanganku tentang hidup dengannya.
“Kalau menurutku tidak ada kata tidak adil dalam hidup. Karena kita hanya tinggal menjalani saja apa yang sudah menjadi jalan pilihan kita. Semua yang kita alami hanyalah imbas dari pilihan kita. Kalaupun ketidakadilan yang kita alami, itu pasti karena kita telah mengambil pilihan yang salah dalam kehidupan. Jadi kurang etis rasanya jika kita mempersalahkan kehidupan dalam hal ini. Tidak ada yang salah dengan hidup. Manusialah yang salah. Manusialah yang tidak adil, sehingga hidup menjadi tidak adil pula bagi manusia.” jelasku panjang lebar.
“Memang tidak ada yang salah dengan kehidupan. Tapi, bukankah manusia adalah salah satu himpunan bagian dari kehidupan? Lalu jika aku tidak menyalahkan kehidupan, kemudian siapa yang salah disini. TUHAN? Tidak mungkin Tuhan yang salah disini, bukan? Semua kemunafikan adalah ciptaanNya. Semua kelicikan adalah salah satu buah karyaNya. Dan satu hal lagi manusia yang penuh dengan sifat biadab dan tak beradab pun adalah hasil kreasiNya.” timpalnya yang sangat membuatku tersentak. ”Pilihan. Memang satu kata inilah yang membedakan manusia dengan makhluk Tuhan yang lainnya. Manusia merupakan makhluk Tuhan yang selalu dihadapkan pada pilihan. Aku sama sekali tak memungkiri hal ini. Tapi, untuk menjadi manusia bijak yang dapat memilih dan memilah mana jalan yang benar, harus memiliki ilmu tentang hal-hal ideal atau keniscayaan universal terlebih dahulu. Karena pilihan yang bijak hanya dapat diambil jika seseorang telah melakukan sintesa antara ilmu dan kehendak. Bukankah hal ini merupakan suatu hal yang kontradiktif ketika manusia diberi kesempatan untuk memilih jalan hidupnya, namun tetap berada pada suatu koridor atau tetap berdasarkan suatu keniscayaan universal.” lanjutnya lagi.
“Sebenarnya apa yang telah menimpamu?” tanyaku dengan suara bergetar sedikit takut jikalau pertanyaanku ini akan menyinggung hatinya. ”Mengapa kau tampak begitu tidak bersahabat dengan hidup?”
“Tidak ada yang menimpaku. Karena aku memang tak pantas ditimpa bahkan oleh musibah sekalipun.”tandasnya misterius.
Dengan tatapan penuh rasa bingung sekaligus penasaran yang amat dalam, aku memandanginya dengan seksama. “Kamu angkatan berapa?”tanyaku mengalihkan pembicaraan.
Tanpa basa-basi Aryapun menjawab,”1997.” Dengan senyuman tersimpul dikedua ujung bibirnya menandakan dia adalah orang yang ramah.
“Bagaimana mungkin! Aku angkatan 2000. Tapi, sepertinya aku jarang bahkan tak pernah melihat wajahmu muncul di setiap mata kuliah yang kuikuti.”sambungku tak percaya.
“Menjadi orang yang tak dikenal, bukanlah masalah bagiku. Bahkan sebisa mungkin aku menjauh dari keramaian. Karena keramaianlah yang menciptakan peradaban yang biadab seperti sekarang ini.”ucapnya seraya menata badannya tepat disampingku.
Tak kuasa menahan tanya dalam hati, aku kembali menanyakan perihal apa yang telah menimpa pemuda berhidung mancung sempurna itu. Dengan tetap memegang teguh pendiriannya untuk tidak berbagi rahasia denganku, Arya hanya tersenyum sambil melepaskan jaketnya dan menyerahkan kepadaku.“Pakai ini! Kau pasti sangat kedinginan disini. Aku tahu kau memiliki asma akut yang tidak memungkinkanmu menahan dinginnya angin malam. Apalagi di dalam ruang kelas yang lembab dan pengap seperti ini.”
Dengan sedikit kaget, aku menurut juga pada apa yang dikatakannya. Sebenarnya apa yang membuat pemuda lembut ini begitu marah pada kehidupan. Apa yang telah membuat pemuda yang begitu penuh senyum ini menjadi manusia yang enggan menyunggingkan tawa di tengah keramaian. Pertanyaan demi pertanyaan terlintas di benakku. Sesungguhnya manusia macam apa yang sedang aku hadapi ini. Begitu misterius. Begitu penuh kasih. Bahkan begitu penuh petuah yang layak untuk dipikirkan oleh setiap makhluk yang hidup di dalam hidup.
Seperti dapat mendengarkan isi hatiku, pemuda tampan itupun menjawab ringan, “Unreasonable. Mungkin, begitulah teman-teman menilaiku. Karena menurutku, tidak semua tindakan yang kita lakukan harus memiliki alasan. Alasan yang aku maksud disini adalah alasan tanpa adanya rasionalitas dan sinkronisasi dengan hati. Terkadang kita sebagai manusia cenderung lebih mendengarkan akal daripada hati. Padahal, seorang manusia hanya dapat disebut sebagai manusia jika akal dan hati dapat digunakan secara optimal. Setiap tingkah laku merupakan refleksi diri yang berfungsi untuk menunjukkan eksistensi kita. Sudah lama aku menjadikan unreasonable menjadi tolak ukur ketulusan. Karena sering sekali manusia terjebak oleh alasan. Semua orang yang melakukan suatu tindakan atas dasar alasan menurutku tidak tulus. Aku melihat apa yang mereka lakukan itu hanyalah ambisi sesaat atau bahkan nafsu menjerat yang tidak layak untuk hidup di otak dan hati kita.” jelasnya panjang, lebar dan tinggi seraya menyunggingkan sesimpul senyum kearahku.
“Termasuk……CINTA?” tanyaku sedikit malu-malu karena rupanya aku mulai terkesima dan admire terhadap sosok penyimpan beribu misteri itu.
“Apalagi cinta. Seorang pecinta sejati tidak menjadikan alasan sebagai dasar utama untuk mencintai. Aku benci terhadap manusia penghamba fisik. Alasan hanya akan mengurangi ketulusan kita dalam mencintai seseorang. Jadi, jika kau mendapati seseorang mengatakan bahwa dia mencintaimu. Tanyakanlah mengapa dia mencintaimu dan apa yang dia cintai darimu. Percayalah, orang yang tidak mengetahui apa alasan dia mencintaimu dan apa yang dicintainya darimu, dialah manusia tulus yang kau impikan. Karena cinta itu adalah, bukan karena.” tegasnya mantap.
Mendengar penjelasan itu, aku semakin tertarik pada Arya, mahasiswa yang umurnya hanya terpaut tiga tahun dariku itu. Sosok yang berada di hadapanku ini bukanlah sosok lelaki yang biasa aku jumpai di kampus sehari-hari. Dia adalah pribadi menyenangkan yang meskipun baru beberapa jam yang lalu aku mengenalnya, tapi aku merasa dia adalah sosok yang berbeda. This is the right man. Gumamku dalam hati tanpa mengucapkannnya.
Menjadi begitu lelah, bibirku pun tak kuat lagi menahan untuk tidak menguap. Mataku sudah berair. Tapi, aku tetap saja tidak rela melepaskan kesempatan untuk memandangi sosok yang telah begitu kukagumi itu.
“Sudah. Tidur sana! Kau tampak sangat mengantuk. Jangan memaksakan apa yang tak dapat kau lakukan. Itu hanya akan menjadikanmu manusia yang tidak memahami kemampuan dirimu sendiri. Satu pesanku padamu bahwa apapun yang kau lakukan harus sesuai dengan hati nuranimu. Jangan pernah menjadi seorang mahasiswi yang hanya mampu didikte dalam mengambil keputusan. Jangan hanya mampu berkata iya. Belajarlah untuk berkata tidak. Berusahalah untuk tetap menjaga idealismemu meskipun kau akan mati jika kau mempertahankannya. Idealisme adalah identitas dirimu. Jika kau tidak mampu menjaga itu, bagaimana kau akan menjaga dunia ini?” ucapnya dengan tatapan serius penuh makna.
Tanpa berkata-kata lagi, dia meletakkan kepalaku di pundaknya yang hangat penuh perlindungan. Dalam waktu beberapa detik saja aku telah mengambil tiket mimpi dan terbang kesana dengan senang hati. Dadaku yang berdegup kencang tak kupedulikan karena aku terlalu mengantuk untuk menyadari bahwa aku tidur di pelukan seorang lelaki untuk pertama kalinya.
Keesokan paginya, aku terbangun oleh suara sumbang Pak Samsul, penjaga kebersihan di jurusanku. Dengan sedikit malu akupun nyelonong pergi. Sehari tidak mandi ternyata tidak enak juga. Badanku terasa berat. Dan sama sekali tidak siap untuk menerima pelajaran apapun. Jadi kuputuskan untuk tidak masuk kuliah hari ini.
Menyadari tentang ketiadaan Arya, aku kembali ke kampus setelah sempat mandi dan makan makanan yang kubeli di warung dekat tempat tinggalku. Kudatangi Pak Samsul dengan seribu pertanyaan yang siap kuberondongkan padanya.
“Pak, lihat Arya tidak? Itu…. mahasiswa angkatan 1997. Yang putih, tinggi, hidung mancung, yang semalam bersama saya terkunci di dalam kelas. Ah….masak iya Pak Samsul tidak tahu Arya. Bukankah Pak Samsul selalu hafal dengan semua mahasiswa yang kuliah disini.”jelasku tanpa memberi kesempatan Pak Samsul untuk menjawab.
“Aduh neng. Arya siapa atuh? Saya gak tahu. Lagipula waktu saya membangunkan eneng tadi, iye teh gak ada siapa-siapa neng. Sumpah neng. Bapak gak tahu. Eneng salah kali.”terang Pak Samsul tanpa berniat untuk membohongiku.
“Enggak pak, saya tidak mungkin salah. Saya bersama Arya semalam. Pak Samsul ini bagaimana? Kalau tidak tahu, jangan bilang saya salah segala donk….” tukasku tak terima.
“Tunggu dulu. Arya…..1997…..Sepertinya saya tidak asing dengan nama itu. Arya…..Oh….saya ingat sekarang……”sambung Pak Samsul berusaha mengingat-ingat.
Akupun bernapas lega. Karena aku akan segera mendapat kabar tentang lelaki yang telah membuatku kagum itu.
“Den Arya Utara. Yang punya tahi lalat kecil di pinggir hidungnya, yang rambutnya lurus belah pinggir, yang di atas bibirnya ada bekas luka sayatan, yang…..”
Tanpa memberi kesempatan pada Pak Samsul untuk melanjutkan ucapannya, aku mengangguk dengan semangat dan berteriak mengiyakan semua kata-kata Pak Samsul.
“….yang sudah meninggal 5 tahun yang lalu itu neng.” Lanjut Pak Samsul yang segera membuatku terkejut tak percaya pada apa yang kudengar.
“Di jurusan ini hanya ada satu Arya neng, itupun sudah meninggal 5 tahun lalu di Jakarta. Itu loh neng…. waktu Pak Harto turun tahta. Tapi, namanya tidak dikenal meskipun dia ikut demo ke Jakarta bersama beberapa teman seperjuangannya yang lain. Dan kejadian itulah yang kemudian mengakhiri hidupnya.”jelas Pak Samsul dengan ekspresi yang tidak menandakan adanya kebohongan di setiap kata-katanya.
Tidak percaya pada apa yang dikatakan oleh orang yang disepuhkan di jurusanku itu, aku terdiam sejenak. ”Tapi, untuk apa Pak Samsul membohongiku? Apa keuntungan yang diperolehnya dari membohongiku?” seruku dalam hati sambil menatap lekat Pak Samsul yang sudah hidup lama di jurusanku. Bahkan lebih lama daripada kajurku sendiri.
“Lalu, apa ada keluarganya yang masih tinggal di Surabaya Pak? Kalau ada, saya minta alamatnya Pak.” tanyaku lagi sambil mengeluarkan kertas dan pulpen yang begitu saja ada di saku jaket Arya yang semalam dan masih kupakai. Mencatat alamat dan nama orang tua Arya, aku segera mengarahkan motorku ke alamat yang dimaksud.
Di bilangan Kedung Tarukan Lama, aku menghentikan motorku di depan sebuah rumah sangat sederhana bercat hijau muda. Segera saja seorang wanita paruh baya yang mengaku sebagai ibu kandung Arya mempersilakan aku untuk masuk dan duduk di atas sofa bambu.
“Ini foto Arya waktu baru saja masuk di bangku kuliah. Dan ternyata ini adalah foto terakhir yang ditinggalkannya untuk kami.” keluh ibu itu sambil menyodorkan sebuah foto berbingkai kayu dan selanjutnya menangis tersedu-sedu.
Betapa kagetnya aku melihat sosok di foto itu persis sama dengan wajah Arya yang kutemui semalam. Tak percaya, aku memandangi foto itu dengan seksama. Setelah kuceritakan apa yang menimpaku semalam, ibu itu memelukku seraya berkata,”Nak maafkan Arya, jika dia telah mengganggumu. Ibu juga tidak tahu ada apa dengan Arya di alam sana. Dia sering sekali nampak nyata di hadapan beberapa temannya bahkan di hadapan orang yang tidak dikenalnya, seperti kamu. Semoga Allah selalu melimpahkan rahmat-Nya untuk Arya.”
Sesudah aku berpamitan pada sang ibu, aku pun pergi meninggalkan rumah itu dan meninggalkan kenangan Arya untuk selamanya. Mungkin inilah yang dia namakan mati dengan membawa idealisme bersamanya. Membawa apa yang dia percayai dan ia perjuangkan. Tapi, satu hal bahwa aku tidak akan melupakan semua yang dikatakannya pada malam itu. Setiap penggal huruf yang diucapkannya mengajarkanku untuk tetap menjalani hidup bagaimanapun hidup berlaku padaku. Malam itu adalah malam penghargaan bagiku. Karena aku dapat berjumpa dengan sesosok manusia yang sangat teguh menjaga idealisme, jati diri bahkan eksistensinya di dunia. Dan jaket ini akan terus kusimpan sebagai pertanda bahwa aku pernah belajar tentang hidup pada seseorang yang telah mati. Akhir kata, selamat datang hidup dan selamat datang pula mati.






Oleh: Zoe ‘04

Tidak ada komentar:

Posting Komentar