Rabu, 10 Maret 2010

MENANTANG HATI


Menangis, aku sangat gembira ketika nama dan nomor ujianku terpampang indah di atas koran yang sedang kutatap. Menjadi salah satu mahasiswa di Institut Perjuangan adalah impian terbesarku. Dan begitulah aku dengan kerja keras tapi dimudahkan oleh Tuhan, selalu mendapatkan apa yang aku inginkan. Hingga suatu saat…….

“Tara!”panggil seorang temanku.

“Hei, what’s up?”jawabku cepat seraya mengulurkan tanganku berharap di sambut juga oleh Brahma, seorang teman lelaki terdekatku. Sudah seperti saudara sendiri. Begitulah aku dan Brahma.

Dengan tanggap dia menyambut tanganku yang terulur ringan, “Hei, entar malem kamu ikut bedah buku di markas ‘gak?”ucapnya semangat, “Beriman Tanpa Rasa Takut by Irshad Manji lo….”lanjutnya lagi.

“Oia, untung kamu ingetin. Yups, aku pasti dateng dong….!”tandasku tak kalah semangat.

Begitulah aku dengan Brahma Negara, seorang laki-laki lumayan tampan, satu fakultas denganku. Meskipun kita berbeda jurusan, itu tidak menyurutkan persaudaraan yang telah dan sedang kita jalin. Menjadi partner in crime to each other, membuat kita semakin akrab. Sangat akrabnya hingga suatu hari Nina, pacar sekaligus belahan jiwa Brahma yang lain, mendatangiku guna melabrakku karena terlalu dekat dengan “cintanya”. Tanggapanku, hanya tertawa lebar dengan menunjukkan semua gigi yang kupunya.

“Nina, aku sama sekali ‘gak tertarik ma cowokmu. Kita berdua murni bersaudara. Dari awal kita kenalan, kita udah mendeklarasikan diri sebagai saudara. Kamu ini aya-aya wae… Ada-ada aja. Udah kamu tenang aja. Meskipun kamu buang si Brahma di pinggir jalan, ‘gak bakal aku pungut kok…”jawabku santai. “Kamu seharusnya percaya penuh ma Brahma. Dihatinya, ‘gak ada wanita lain selain kamu. Dia sayang banget ke kamu. Asal kamu tahu, saat ini, buat Brahma, kamu adalah the one and only. Kamu ‘gak perlu curiga ke dia. Banyak teman-temannya yang menentang hubungan kalian. Tapi, dia tetap bertahan dan tetap menggandengmu sebagai pasangannya. Kurang apa lagi?”lanjutku terus terang.

“Aku cuma ‘gak suka ya, kamu deket-deket ma Brahma. Mataku risih ngeliatnya. Awas kalau kamu berani ngedeketin Brahma lagi.”ancam gadis manis di bawah lindungan kerudung biru muda di atas kepalanya itu.

Nina pun melengos pergi. Tanpa salam, tanpa pamit. “Kayak jelangkung aja. Dateng ‘gak dijemput, pulang ‘gak dianter.”kataku dalam hati seraya tersenyum simpul.

Tanpa sedikitpun mengindahkan kejadian kemarin, aku bersama Brahma tetap melakoni segudang kegiatan yang memang rutin kita berdua lakukan. Menjadi pengurus dalam klub Readingholic, membuat aku dan Brahma sering berinteraksi. Bahkan lebih sering daripada interaksinya dengan kekasihnya sendiri, Nina.

Sebenarnya, bukanlah rahasia lagi bahwa Nina hanya menjadikan Brahma sebagai sopir yang akan dengan senang hati mengantarnya kemanapun dia mau. Tidak ada yang tidak tahu bahwa Nina hanya menjadikan Brahma sebagai alat meraih popularitas. Ketua Himpunan Mahasiswa Jurusan sekaligus pemrakarsa Readingholic yang saat ini sedang berada di puncak. Brahma juara dua, tentu saja setelah aku, dalam lomba menulis cerpen mahasiswa tingkat provinsi. Siapa yang tak mengenal Brahma, mahasiswa jurusan Fisika yang tinggi semampai, berhidung mancung, berkulit putih, dan bermata coklat indah. Seakan seantero kampus mengelukan namanya. Sudah barang tentu menjadi kebanggaan bisa meraih hati sang Brahma. Tapi, hati Brahma sedang berkabut cinta. Dia tetap memilih Nina, gadis yang memang benar-benar manis wajahnya itu.

“Apa? Diabetes? Apa Nina mengetahui hal ini?”tanyaku terkaget hingga tanpa kusadari mataku tengah melotot pada sosok mempesona, Brahma.

“Nina sama sekali belum mengetahui hal ini. Kamu adalah orang pertama di samping kedua orang tuaku yang mengetahui hal ini.”ucap Brahma semakin lirih. “Aku takut Nina akan meninggalkanku jika dia mengetahui penyakitku ini.”

“Brahma, sadarlah! Jikapun Nina benar-benar mencintaimu, dia akan selalu berada di sampingmu apapun dan bagaimanapun keadaanmu. Ketahuilah sahabat sekaligus saudaraku, kamu berhak mendapat yang terbaik. I know that you will.”kataku menghiburnya. “Aku tahu ucapanku ini sangatlah klise. Tapi, coba kamu renungkan. Apa makna cinta sesungguhnya? Apa arti kebersamaan dalam perasaan sayang? Cinta itu tidak membutuhkan alasan. Cinta tidak membutuhkan kata apalagi pembuktian. Cinta akan selalu ada di hati kita. Dan cinta itu juga yang akan memilih kepada siapa dia diberikan. Percayalah, kejujuran adalah yang terbaik. Sepandai apapun kamu menyimpan bangkai, akhirnya pasti akan tercium juga.”lanjutku lagi.

“Oke, aku akan bilang ke Nina tentang hal ini. Tapi, apa kamu masih tetap mau jadi teman, sahabat bahkan saudaraku, seorang penderita diabetes taraf lanjut?”tanya Brahma seraya menundukkan kedua kepalanya di hadapanku.

“Ya Tuhan, Brahma, aku sayang ke kamu tulus. Benar-benar tulus. Aku sama sekali ‘gak peduli ma penyakitmu. Apapun yang terjadi, kamu tetaplah Porthosku.”ucapku sambil memeluknya erat hingga tak terasa airmataku menetes perlahan di atas pundaknya.

“Athosku, terima kasih. Kamu jangan ninggalin aku karena hal ini ya!”pintanya lembut, dan akupun mengiyakan hanya dengan anggukan. Tak kuasa mengucapkan sepatah katapun.

***
Seperti yang sudah aku duga sebelumnya, Nina saat ini menggandeng lelaki tampan yang lain. Deva, mahasiswa teknik yang juga merupakan salah satu icon besar di fakultasnya.

Dan disinilah aku, bersama Brahma di ruangan serba putih. Rumah Sakit Harapan menjadi tempat kami menghabiskan sebagian besar waktu kami berdua. Brahma yang kini ringkih, berbaring tak berdaya di atas tempat tidur berkain hijau muda cerah, pertanda harapan hidup. Dengan menggenggam kedua tanganku, Brahma berucap,”Bagaimana bisa selama ini mataku tertutup akan cinta sejati yang begitu dekat. Bagaimana bisa aku mengabaikan cinta tulus yang bersemayam di hati sahabatku sendiri. Bagaimana bisa aku tak menyadari bahwa akupun begitu mencintaimu, wahai Athosku yang terkasih.”

Aku tersenyum simpul, ”Mata manusia memang sangat terbatas. Sehingga tidak tahu apa yang akan terjadi bahkan apa yang sedang terjadi. Apa yang ada di hadapan mata dan apa yang jauh dari jangkauan. Hatikupun begitu bodoh untuk memahami yang mana kasih sayang dan yang mana cinta. Aku juga telah begitu tolol karena baru menyadari bahwa cinta itu dekat. Sangat dekat.”jawabku seraya menggenggam erat kedua tangan Brahma.



Zoe’04

Tidak ada komentar:

Posting Komentar