Rabu, 03 Maret 2010

CATATAN PENULIS JALANAN

Tanpa meragu kuguratkan penaku di atas secarik kertas. Kertas yang baru saja kubeli dari pasar loak. Kusam, setengah terpakai dan yang pasti murahan. Tinta hitamku menari dengan indah, berlenggak-lenggok lincah. Dengan segera kertas putih itu penuh dengan ide yang ada dalam benakku. Dalam ruangan yang sempit, sesak, hingga hanya untuk merentangkan tangan dan kakiku saja sudah membuatnya penuh ini, aku menguak segala yang terjadi di sekitarku dan menuangkannya di kertas kusam dan terbuang ini. Tak sadar, waktu seharian penuh telah kuhabiskan di depan meja belajarku yang mungkin sebentar lagi akan rubuh karena sebagian kayunya telah dimakan rayap.
“Panca, sedang apa kau? Mengapa kau tak keluar kamar sedari tadi? Apakah kau sakit?” berondong tanya terlontar dari bibir ibuku tersayang seraya berjalan mendekatiku.
“Anakmu ini sedang belajar menjadi seorang penulis, ibu. Sedari tadi aku mencoba menulis segala yang kuketahui tentang hidup dan segala yang terjadi disekitarku, bu. Aku berusaha menuangkan semua ideku di atas kertas ini, bu.” jawabku dengan berbangga hati.
“Penulis? Apa yang akan kau harapkan dengan menjadi seorang penulis?” Lanjut ibuku dengan nada sedikit tinggi. “Apa ini? Catatan penulis jalanan?” terdiam sejenak, ibuku menatap tulisanku lekat,”Isi tulisanmu ini terlalu mencolok anakku. Ini terlalu benar untuk diungkapkan. Adakalanya kita lebih baik menghindari masalah dengan tidak mencampuri masalah orang lain. Dan adakalanya kita lebih baik menutupi kebenaran meski hanya untuk menghindari masalah. Kebenaran tidak selalu harus diungkapkan anakku.”
“Tapi bu, bukankah ibu selalu mengajarkan kepadaku untuk selalu berkata benar meski nyawa sebagai taruhannya? Bukankah di sekolah aku selalu diajarkan untuk berani mengungkapkan kebenaran meski hukuman yang akan aku dapatkan nantinya? Bukankah di kampus aku selalu ditekankan akan nilai-nilai kejujuran?” sahutku lagi.
”Bukankah ibu pernah memberiku petuah bahwa kebenaran bukan hanya harus dipertanyakan, diserukan, dan diperbincangkan. Melainkan kebenaran itu harus diperjuangkan. Sudahkah engkau lupa akan wejanganmu itu, wahai ibu?” lanjutku dengan menatap mata ibuku lekat-lekat.
“Tentu saja ibumu ini masih ingat anakku. Tapi, ini kasusnya berbeda. Kejujuran dalam hal apa dulu. Walaupun kujelaskan, kau pasti akan menyangkalnya lagi. Ini bukan dunia yang kau kira, anakku. Dunia yang kau huni sekarang ini adalah dunia yang penuh dengan kebusukan. Tindakan bukan lagi mencerminkan jati diri, tapi lebih merupakan kamuflase dan omong kosong penuh mimpi. Kebenaran pun menjadi semakin kabur dan menjadi semakin tidak jelas. Bagaimana kau akan memperjuangkan sesuatu yang eksistensi dan jati dirinya pun tidaklah jelas adanya?” tandas ibuku seraya mengelus kepalaku dengan lembut.
“Apa yang berbeda, ibu? Tidak bisakah kita memandang kejujuran sebagai sesuatu yang universal dan bukan merupakan sesuatu yang partikular, bu? Memang ada berapa macam kejujuran, bu? Jika memang kejujuran adalah sesuatu yang partikular, maka bukankah itu berarti bahwa kebenaran juga bukan merupakan sesuatu yang universal? Lalu, jika begitu berat dan susahnya seseorang mendefinisikan kebenaran, apakah itu tidak berarti bahwa semua insan yang jauh dari kebenaran tidaklah dapat dipersalahkan? Sedangkan seperti yang sama-sama telah kita ketahui bersama bahwa setiap orang sejatinya telah memiliki kemampuan inderawi untuk memilih dan memilah mana yang benar dan mana yang salah? Apakah semua argumenku ini salah adanya, bu?” tanyaku tak terima.
“Kau masih terlalu lugu untuk menatap dunia yang sesungguhnya, anakku. Dunia ini tidak membutuhkan kejujuranmu. Dunia tidak peduli seberapa jujur dirimu. Dunia tidak mau tahu bilamana kau berkata jujur atau berdusta. Dunia yang kini berada di depan matamu adalah dunia yang bahkan lebih menghargai kedustaan dan kenistaan. Para penghuninya lebih menjunjung tinggi kebusukan dalam menjalani hidup.”sambung ibuku lagi.
Dengan penuh kekecewaan, aku menyela pernyataan beliau,“Jadi, untuk apa ada sistem hukum dan peradilan di dunia ini? Jika kejujuran saja menjadi begitu tidak berarti di hadapan kekuasaan. Untuk apa ada jajaran penegak hukum jika kejujuran hanya akan menjadi penyakit dalam masyarakat, dan kebenaran hanya akan menjadi pemanis bibir belaka,bu?”
“Sekali lagi, anakku. Kau terlalu lugu untuk mengerti betapa biadabnya dunia di luar sana. Kau terlalu polos untuk mengetahui betapa buruk rupa dunia dibalik kemilau indah yang dipancarkannya. Jangan memandang dunia dengan hanya mengandalkan kacamata kuda, anakku. Lihatlah dunia ini dengan matamu yang telah terasah dengan pengalaman hidup. Bukalah matamu lebar-lebar. Adakalanya kau harus memugar semua idealisme yang telah bertahun-tahun kau bentuk. Adakalanya kau harus membuang jauh keinginanmu untuk berkata jujur, jika sang penguasa tidak menginginkan kau untuk berkata jujur.”terang ibuku panjang lebar.
Aku kehabisan kata-kata untuk menyangkal kata-kata beliau. Aku hanya bisa menunduk dan menyesali nasibku. Nasib yang telah menempatkan aku di dunia yang sangat tidak aku mengerti ini. Setelah ibu meninggalkanku, aku tepekur menimbang-nimbang apa yang telah kudengar dari bibir beliau. Aku hanya bisa menatap kertas dihadapanku yang kini telah penuh tulisan itu. Kubaca dan kubaca berulang-ulang.


Catatan Penulis Jalanan


 Palu mengutuk setiap ucapanku, memaku mati setiap jonjot lidahku. Kata menjadi mati di kaki penguasa. Makna telah hancur di tangan para pembantai sastra. Pembunuhan karya dilakukan di udara yang katanya bebas merdeka. Upacara kremasi terhadap ide dilaksanakan atas nama konstitusi. Karena bagi mereka, konstitusi hanyalah alat pemusnah kebenaran. Bahkan hanya untuk menulis pun, semua sastrawan harus dihunjam berbagai macam peraturan yang sangat tidak relevan. Mereka lupa bahwa revolusi adalah ibu dari konstitusi. Mereka lupa bahwa kekuatan revolusi akan menghancurkan tiap jengkal konstitusi rekayasa yang telah mereka buat. Mereka lupa bahwa aku, kamu, dan seluruh rakyat dapat menciptakan kekuatan revolusi yang bahkan tidak akan dapat mereka bayangkan dahsyatnya. Dan mereka lupa bahwa betapapun mereka mengubur semua ide pergerakan, tidak akan dapat menyurutkan langkah pembaharuan yang akan menderu dan membabat habis segala penyimpangan yang mereka lakukan dengan sangat gamblang dan nyaris tampak tanpa dosa.
Di dunia ini, menjadi salah sangatlah susah. Tapi menjadi yang benar akan jauh lebih susah. Untuk memilih pemimpin, aku harus mencari yang terbaik. Tapi, yang terjadi sekarang ini sangatlah jauh berbeda. Diantara para calon yang akan menempati kursi kehormatan, tidak ada satupun yang pantas untuk dihormati. Tidak satupun dari mereka yang pantas untuk dipercaya. Apakah aku harus memilih yang paling buruk diantara para calon yang buruk itu?
Ya Tuhanku, aku tidak ingin menjadi penulis yang baik, hebat ataupun terkenal. Aku hanya ingin menjadi penulis yang benar. Penulis yang selalu berani untuk mengungkapkan apa yang tengah terjadi di hadapan dan di depan mataku. Penulis yang tak segan memberikan kutukan kepada para penjagal kemanusiaan. Penulis yang senantiasa berkata jujur dalam setiap kata yang diucapkannya. Apakah hal ini terlalu muluk untuk kuminta? Apakah permohonanku ini terlalu tinggi untuk kujangkau? Apakah do’aku ini terlalu susah untuk diwujudkan? Aku tahu Ya Tuhan, tidak ada kata susah jika berada di tanganMu. Maka itu ya Tuhan, kabulkanlah permohonanku.
By: Panca Bawana



Sepertinya, apa yang dikatakan ibuku itu benar adanya. Tapi, otakku masih terlalu bebal untuk mengerti. Sebenarnya aku tidak ingin mengerti hal itu. Akupun bergumam dalam hati,” Ibu, maafkan anakmu ini yang dengan senang hati akan selalu menentang apa yang engkau katakan tadi. Aku tidak ingin menjadi manusia yang lupa pada makna kejujuran, bu. Aku tidak ingin menjadi manusia yang terkurung oleh kemunafikan. Aku tidak ingin dan tidak akan membiarkan kebenaran hancur begitu saja. Aku tidak akan pernah mengijinkan kebenaran menjadi sampah yang terlupakan. Bahkan aku tidak ingin hidup di dunia yang engkau jelaskan padaku itu. Aku akan membangun sendiri duniaku. Dimana seseorang tidak perlu bersusah payah mencari alasan untuk menutupi kebohongan. Dimana kejujuran menjadi simbol peradaban. Aku tidak mau larut dalam peradaban dunia yang engkau ceritakan padaku itu, ibu. Karena peradaban yang telah engkau ceritakan padaku itu hanyalah peradaban yang membawa manusia bersama bumi yang ditempatinya datang mendekati jurang kenistaan yang berpalung dalam dan tak berujung pangkal. Setiap teriakan akan terdengar sangat nyaring disana. Tapi manusia telah menjadi begitu tuli semasa hidupnya. Setiap tangisan akan terlihat sangat jelas meskipun tanpa cahaya setitikpun disana. Tapi, manusia telah membiasakan matanya dengan kebutaan abadi yang tak akan tersembuhkan oleh suatu apapun. Setiap rintihan akan sangat berati disana, tapi manusia terlanjur terbiasa dengan kebisuan sejati yang menegasikan semua kemurnian kata. Aku akan membangun peradaban lain yang lebih mulia, ibu. Aku akan terus menerus berusaha membangun dunia dengan peradaban itu, bu. Semahal apapun aku harus membayarnya, aku akan tetap memperjuangkan apa yang aku yakini.”
Kulipat kembali kertas bertulis itu. Kusimpan aman di laci meja belajarku yang reyot. Dan akan kujaga sampai nanti suatu saat aku harus menentang dunia karenanya.


By: Zoe ‘04

Tidak ada komentar:

Posting Komentar